
Penyuluhan Kesehatan 5 Pilar STBM
Pada hari Jumat, 13 Februari 2026, Pendopo Balai Desa Slarang menjadi tempat pelaksanaan kegiatan Penyuluhan Kesehatan terkait 5 Pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Acara dihadiri oleh Pelaksana Jabatan (PJ) Kepala Desa Slarang, Bapak Widhie Astoyo, S.Sos; narasumber, Bidan Widi Astuti, A.Md.Keb; serta Ketua RT, RW, dan warga dari wilayah yang sebelumnya telah menjalani verifikasi. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut resmi dari hasil verifikasi/verval yang dilaksanakan pada 4 Februari 2026 lalu.
Acara dibuka dengan sambutan singkat dari PJ Kepala Desa, Bapak Widhie Astoyo, yang menegaskan komitmen pemerintahan desa untuk menindaklanjuti temuan verifikasi demi peningkatan kualitas kesehatan dan sanitasi lingkungan. Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari aparat lingkungan hingga warga—untuk bersinergi dalam memperbaiki kondisi yang belum memenuhi standar agar capaian STBM di desa dapat terwujud secara berkelanjutan.
Sesi inti penyuluhan dipandu oleh narasumber, Bidan Widi Astuti, yang menyampaikan materi praktis dan kontekstual mengenai kelima pilar STBM, dengan fokus pada perbaikan aspek-aspek yang menjadi temuan verifikator. Materi utama mencakup:
Penjelasan singkat tentang 5 Pilar STBM: stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengolahan air minum dan makanan rumah tangga yang aman, pengelolaan sampah yang aman, dan pengelolaan limbah cair yang sehat.
Pemaparan temuan verifikasi di wilayah yang telah diverifikasi—terutama kondisi sanitasi yang masih buruk pada beberapa titik dan praktik pembuangan pampers/ popok sekali pakai yang belum sesuai standar lingkungan.
Dampak kesehatan dan lingkungan dari sanitasi yang tidak memadai dan pembuangan pampers yang sembarangan, termasuk risiko penyebaran penyakit, pencemaran saluran air, dan gangguan kebersihan lingkungan pemukiman.
Langkah-langkah praktis yang dapat segera dilakukan oleh warga, RT/RW, dan kader, antara lain pembuatan jamban sehat sederhana, penerapan rutinitas cuci tangan pakai sabun, pengolahan dan penyimpanan air minum aman, pengelolaan sampah organik dan non-organik secara terpisah, serta mekanisme pengumpulan dan penanganan pampers yang aman (mis. wadah tertutup, jadwal pengumpulan khusus, kerjasama dengan fasilitas pengelolaan sampah setempat).
Rekomendasi teknis dan prioritas perbaikan yang dapat dilaksanakan dengan sumber daya lokal, serta alternatif solusi jangka pendek dan jangka menengah yang melibatkan partisipasi warga dan dukungan Puskesmas atau dinas terkait.
Sesi tanya jawab berjalan aktif. Ketua RT/RW dan warga menyampaikan kendala operasional yang mereka hadapi, seperti keterbatasan biaya untuk membangun jamban permanen, kurangnya sarana pengumpulan sampah khusus untuk pampers, dan kebiasaan lama yang sulit diubah. Bidan Widi memberikan jawaban praktis: solusi jamban sederhana berbiaya terjangkau, teknik pembuatan penampungan pampers sementara yang higienis, cara mengedukasi keluarga dengan anak balita untuk membuang pampers pada tempat yang benar, serta pentingnya pengawasan bergilir oleh RT/RW untuk memastikan penerapan kebiasaan baru.
Selain edukasi teknis, penyuluhan juga menekankan peran kader kesehatan dan perangkat desa dalam mengorganisir aksi gotong-royong lingkungan, pemantauan kepatuhan keluarga terhadap indikator STBM, serta pencatatan dan pelaporan perbaikan yang telah dilakukan. Kader dan perangkat desa diminta untuk membuat daftar prioritas lokasi yang membutuhkan intervensi segera dan menyusun rencana aksi sederhana yang dapat dilaksanakan dalam 1–3 bulan ke depan.



0 Komentar